Kredit Usaha Rakyat (KUR) adalah program pembiayaan resmi pemerintah Indonesia yang menyalurkan kredit modal usaha berbunga rendah kepada pelaku UMKM lewat bank dan lembaga keuangan yang ditunjuk, dengan suku bunga 6% efektif per tahun karena sebagian bunganya disubsidi negara. Program ini khusus untuk usaha produktif, bukan untuk kebutuhan konsumtif seperti belanja pribadi atau kartu kredit.

Kebijakannya dikoordinasikan oleh Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian lewat portal resmi kur.ekon.go.id, lalu disalurkan lewat puluhan bank penyalur di seluruh Indonesia. Artikel ini adalah panduan induk yang merangkum sejarah program, lima skema plafon, aturan agunan, sampai perbedaan KUR dengan pinjaman komersial biasa. Kalau Anda sudah tahu bank tujuan, langsung baca panduan spesifik seperti KUR BRI atau KUR Mandiri.

Apa Itu Kredit Usaha Rakyat (KUR)

KUR pertama kali digulirkan pemerintah pada 2007 untuk memperluas akses modal bagi usaha mikro, kecil, dan menengah yang selama ini kesulitan menembus kredit perbankan konvensional karena keterbatasan agunan atau riwayat kredit formal. Sesuai kebijakan resmi Kemenko Perekonomian, suku bunga KUR saat ini 6% efektif per tahun berdasarkan Peraturan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Nomor 8 Tahun 2019 tentang Pedoman Pelaksanaan Kredit Usaha Rakyat.

KUR tetap kredit, bukan hibah, sehingga peminjam wajib membayar cicilan pokok plus bunga sesuai jadwal. Bedanya dengan kredit biasa ada pada subsidi bunga, kemudahan agunan untuk plafon tertentu, dan fokus penyaluran ke usaha produktif. Pahami dulu definisi usaha mikro dan kategori UMKM secara resmi supaya tahu kelas usaha Anda.

Sejarah dan Perkembangan Skema KUR

KUR sudah melewati dua era skema pembiayaan. Fase pertama, November 2007 sampai 31 Desember 2014, memakai skema Imbal Jasa Penjaminan (IJP) dengan total dana tersalur Rp175,54 triliun.

Sejak Agustus 2015, skema berganti jadi subsidi bunga yang berlaku sampai sekarang. Tarif awal 12% per tahun turun bertahap jadi 9%, lalu 6% efektif per tahun seperti sekarang, sesuai Permenko Nomor 8 Tahun 2019 yang kemudian diubah lewat Permenko Nomor 2 Tahun 2021 sebagai perubahan kedua.

Skalanya besar. Sepanjang Agustus 2015 sampai 31 Desember 2020, realisasi KUR skema subsidi bunga mencapai Rp670,5 triliun, outstanding Rp231,2 triliun, dengan NPL hanya 0,46 persen, tergolong sangat sehat untuk program pembiayaan berskala nasional.

Lima Skema KUR dan Plafonnya

Sebelum mengajukan, pastikan Anda tahu skema yang sesuai. Pemerintah membagi KUR jadi lima skema plafon dengan target debitur dan aturan agunan berbeda, seperti dirangkum tabel berikut.

Skema KUR Plafon Agunan Tambahan Catatan
KUR Super Mikro Sampai dengan Rp10 juta Tidak dipersyaratkan Tanpa syarat minimal lama usaha. Penerima yang berusaha kurang dari 6 bulan wajib ikut pelatihan atau pendampingan.
KUR Mikro Di atas Rp10 juta sampai Rp50 juta Tidak dipersyaratkan, tanpa perikatan Sektor produksi bisa suplesi ulang tanpa batas maksimal akumulasi plafon.
KUR Kecil Di atas Rp50 juta sampai Rp500 juta Tidak dipersyaratkan sampai plafon Rp100 juta; di atas itu mengikuti kebijakan bank Cocok untuk usaha yang lebih mapan dan butuh modal skala lebih besar.
KUR Khusus Sampai dengan Rp500 juta Tidak termasuk pengecualian di atas, konfirmasi ke bank penyalur Untuk kelompok mitra usaha seperti perkebunan rakyat, peternakan rakyat, perikanan rakyat, dan industri UMKM.
KUR Penempatan PMI Sampai dengan Rp25 juta Tidak termasuk pengecualian di atas, konfirmasi ke bank penyalur Khusus calon Pekerja Migran Indonesia yang akan bekerja di luar negeri.

Plafon di atas adalah batas maksimal, bukan jumlah otomatis yang Anda terima. Bank tetap menilai kelayakan usaha sebelum menentukan plafon final. Detail plafon di batas atas skema Mikro dan Kecil bisa dibaca di panduan KUR 100 juta.

Ilustrasi lima skema Kredit Usaha Rakyat beserta rentang plafon masing-masing
Lima skema KUR punya plafon dan aturan agunan yang berbeda, pilih sesuai skala usaha Anda.

Siapa yang Berhak Mengajukan KUR

KUR terbuka untuk warga negara Indonesia dengan usaha produktif dan layak, baik perorangan maupun badan usaha mikro, kecil, dan menengah. Usaha produktif berarti benar-benar menghasilkan barang atau jasa dengan arus kas yang bisa dipantau dan potensi mampu membayar cicilan.

Pemohon yang sedang punya kredit produktif aktif di bank lain umumnya tidak bisa mengajukan KUR baru secara bersamaan, kecuali kredit konsumtif seperti KPR atau kredit kendaraan. Khusus KUR Super Mikro, tidak ada syarat minimal lama usaha, tapi penerima yang berusaha kurang dari 6 bulan wajib ikut pelatihan atau pendampingan.

Untuk skema lain, syarat detail soal lama usaha dan dokumen bisa berbeda tergantung bank penyalur, jadi konfirmasi langsung tetap wajib. Kalau usaha Anda belum terdaftar resmi, urus dulu daftar UMKM dan pahami kewajiban pajak UMKM supaya administrasi rapi sebelum mengajukan.

Aturan Agunan Tambahan KUR

Plafon sampai Rp100 juta pada KUR Super Mikro, KUR Mikro, dan KUR Kecil tidak dipersyaratkan agunan tambahan seperti sertifikat tanah atau BPKB. Tapi ini bukan berarti tanpa agunan sama sekali. Usaha yang dibiayai tetap jadi agunan pokok, dan bank tetap menilai kelayakan usaha secara serius lewat survei lapangan dan riwayat transaksi.

Untuk plafon KUR Kecil di atas Rp100 juta, KUR Khusus, dan KUR Penempatan PMI, ketentuan agunan tambahan mengikuti kebijakan masing-masing bank karena tidak termasuk pengecualian di atas, jadi konfirmasi langsung ke bank tujuan. Kalau Anda butuh pembiayaan tanpa agunan sama sekali di luar KUR, bandingkan dengan kredit tanpa agunan online atau pinjaman tanpa jaminan, meski bunganya umumnya jauh lebih tinggi.

Sektor Produksi vs Perdagangan dalam KUR

Pemerintah membedakan penyaluran KUR ke sektor produksi (pertanian, perikanan, peternakan, industri pengolahan, jasa produksi) dan sektor perdagangan (jual beli barang tanpa proses produksi tambahan).

Target minimal penyaluran ke sektor produksi terus naik dari tahun ke tahun, yaitu minimal 40% pada 2017, 50% pada 2018, lalu 60% pada 2019 dan 2020, menunjukkan arah kebijakan yang mendorong dana KUR mengalir ke usaha bernilai tambah. Untuk sektor produksi di skema Mikro, Anda juga berpotensi suplesi ulang tanpa batas maksimal akumulasi plafon selama memenuhi penilaian bank.

Bank dan Lembaga Penyalur KUR

KUR disalurkan lewat puluhan bank dan lembaga keuangan resmi, mulai dari bank BUMN, bank swasta nasional, sampai bank pembangunan daerah. Daftar penyalur aktif selalu bisa dicek di portal resmi KUR. Prosedur dan kecepatan proses tiap bank sedikit berbeda meski aturan dasar plafon dan bunga sama-sama mengikuti kebijakan pemerintah. Berikut panduan spesifik per bank:

Untuk mekanisme dan jenis dana KUR secara umum, atau ringkasan pinjaman KUR dari hulu ke hilir, baca panduan terpisah kami.

Suku Bunga KUR dan Subsidi Pemerintah

Daya tarik utama KUR ada pada bunganya yang jauh lebih ringan dibanding kredit komersial. Berdasarkan kebijakan resmi KUR, tarifnya 6% efektif per tahun sesuai Permenko Nomor 8 Tahun 2019, hasil penurunan bertahap dari 12% lalu 9% di era sebelumnya.

Selisih antara bunga pasar dan bunga yang dibebankan ke debitur ditanggung pemerintah lewat APBN. Karena ini kebijakan pemerintah, tarif bisa berubah mengikuti kondisi fiskal, jadi selalu cek angka terkini di portal resmi sebelum mengajukan. KUR hampir selalu jadi opsi pertama yang masuk akal dibanding kredit multiguna atau pinjaman online yang bunganya lebih mahal.

Simulasi Angsuran KUR

Berikut simulasi angsuran bulanan KUR berdasarkan perhitungan anuitas dari tarif 6% efektif per tahun. Ini murni simulasi ilustrasi, bukan penawaran resmi dari bank manapun, karena angsuran riil bisa berbeda tergantung kebijakan bank dan biaya administrasi yang berlaku.

Plafon 12 bulan 24 bulan 36 bulan 48 bulan 60 bulan
Rp 10.000.000 Rp 860.664 Rp 443.206 Rp 304.219 Rp 234.850 Rp 193.328
Rp 25.000.000 Rp 2.151.661 Rp 1.108.015 Rp 760.548 Rp 587.126 Rp 483.320
Rp 50.000.000 Rp 4.303.321 Rp 2.216.031 Rp 1.521.097 Rp 1.174.251 Rp 966.640
Rp 100.000.000 Rp 8.606.643 Rp 4.432.061 Rp 3.042.194 Rp 2.348.503 Rp 1.933.280
Rp 500.000.000 Rp 43.033.215 Rp 22.160.305 Rp 15.210.969 Rp 11.742.515 Rp 9.666.401

Makin panjang tenor, makin ringan angsuran bulanan, tapi total bunga yang dibayar makin besar. Contoh: pinjaman Rp50 juta tenor 12 bulan menghasilkan total bunga sekitar Rp1,64 juta, sedangkan tenor 60 bulan total bunganya sekitar Rp8,00 juta, atau selisih sekitar Rp6,36 juta. Pilih tenor sesuai arus kas usaha, bukan sekadar angsuran terkecil, dan susun dulu anggaran usaha yang rapi supaya tenor yang dipilih realistis.

Beda KUR dengan Pinjaman Komersial Biasa

Banyak orang mengira KUR sama saja dengan kredit modal kerja bank biasa, cuma beda nama. Padahal ada beberapa perbedaan mendasar yang membuat KUR jauh lebih ramah untuk usaha kecil.

Pertama, soal bunga. KUR memakai tarif bersubsidi 6% efektif per tahun, sementara kredit komersial memakai tarif pasar yang ditentukan masing-masing bank dan pada umumnya jauh lebih tinggi. Kedua, soal agunan. KUR untuk plafon sampai Rp100 juta pada tiga skema utamanya bebas agunan tambahan, sementara kredit komersial hampir selalu meminta jaminan fisik berapa pun nominalnya.

Ketiga, soal tujuan dana. KUR khusus untuk usaha produktif, bukan konsumtif seperti kredit multiguna atau kredit handphone. Keempat, soal pengawasan. Penyaluran KUR diawasi ketat lewat pelaporan berkala ke Kemenko Perekonomian, termasuk target sektor dan realisasi tahunan. Kalau usaha Anda memenuhi syarat, ambil jalur KUR dulu sebelum kredit komersial atau pinjaman online yang lebih mahal.

Realisasi dan Skala Program KUR

Skala program ini besar. Periode IJP November 2007 sampai 31 Desember 2014 menyalurkan Rp175,54 triliun. Ketika berganti skema subsidi bunga sejak Agustus 2015 sampai 31 Desember 2020, realisasinya melonjak jadi Rp670,5 triliun dengan outstanding Rp231,2 triliun.

Yang lebih penting dari angka besar itu, NPL periode tersebut hanya 0,46 persen, jauh di bawah ambang batas yang biasa dianggap sehat untuk industri perbankan. Ini membuktikan disiplin bayar debitur KUR cukup baik meski disalurkan masif ke jutaan pelaku usaha kecil, dan jadi alasan kenapa KUR terus dipertahankan sebagai instrumen utama pemerintah mendukung modal usaha UMKM di seluruh Indonesia.

Cara Mengajukan KUR Langkah demi Langkah

Pengajuan KUR bisa dilakukan sendiri tanpa perantara. Waspadai pihak yang mengaku bisa "meloloskan" pengajuan dengan biaya tertentu, karena itu bukan praktik resmi. Berikut alur umum yang biasa dilalui pemohon:

  1. Pastikan usaha memenuhi syarat dasar. Usaha sudah berjalan, produktif, dan Anda tidak sedang memiliki kredit produktif aktif di bank lain.
  2. Tentukan skema dan plafon yang sesuai. Sesuaikan dengan skala usaha, jangan asal mengejar plafon maksimal.
  3. Siapkan dokumen. KTP, Kartu Keluarga, dan dokumen legalitas usaha seperti Nomor Induk Berusaha (NIB) yang bisa diurus gratis secara online lewat sistem OSS (Online Single Submission) milik pemerintah, atau surat keterangan usaha dari kelurahan.
  4. Datang ke bank penyalur pilihan Anda. Sampaikan maksud mengajukan KUR dan skema yang diincar, lalu ikuti proses pengisian formulir.
  5. Survei lapangan. Petugas bank akan mengunjungi tempat usaha untuk memverifikasi kondisi riil, arus kas, dan kelayakan usaha.
  6. Analisis dan persetujuan. Bank menilai kemampuan bayar Anda dan menentukan plafon yang disetujui, yang bisa saja lebih kecil dari yang diajukan.
  7. Akad kredit dan pencairan. Setelah disetujui, Anda menandatangani akad dan dana dicairkan ke rekening.
Pelaku UMKM menyiapkan dokumen syarat pengajuan Kredit Usaha Rakyat seperti KTP dan NIB
Menyiapkan dokumen dengan rapi sejak awal mempercepat proses verifikasi pengajuan KUR.

Kalau Anda butuh rencana penggunaan dana yang meyakinkan analis bank, susun dulu bisnis plan atau proposal usaha sederhana, terutama untuk plafon yang lebih besar seperti KUR Kecil atau KUR Khusus.

Kesalahan Umum yang Bikin Pengajuan Ditolak

Penolakan KUR jarang murni karena usahanya jelek, lebih sering karena persoalan administratif. Pertama, mencampur uang usaha dengan uang pribadi, sehingga analis kesulitan menilai kemampuan bayar Anda yang sebenarnya. Kedua, mengajukan saat masih memiliki kredit produktif aktif di bank lain, yang biasanya otomatis menggagalkan pengajuan.

Ketiga, mengajukan plafon yang tidak masuk akal dibanding skala usaha, justru memicu kecurigaan bukan kepercayaan. Keempat, mengandalkan calo yang menjanjikan kelancaran dengan imbalan tertentu, yang berisiko merugikan secara finansial dan menimbulkan masalah administratif. Ajukan sendiri langsung ke bank, dan kalau butuh pendampingan strategi keuangan usaha, konsultasikan ke pihak kredibel seperti Mentor Bisnis Indonesia daripada memakai jasa calo yang tidak jelas legalitasnya.

Baca Juga: Topik Terkait

Pertanyaan Umum (FAQ)

Apa itu Kredit Usaha Rakyat (KUR)?

KUR adalah program pembiayaan pemerintah yang menyalurkan kredit modal usaha berbunga rendah kepada pelaku UMKM lewat bank dan lembaga keuangan penyalur, dengan bunga 6% efektif per tahun karena sebagian bunganya disubsidi negara. KUR tetap kredit yang wajib dikembalikan, bukan bantuan cuma-cuma.

Berapa suku bunga KUR saat ini?

Suku bunga KUR yang berlaku saat ini adalah 6% efektif per tahun, sesuai Peraturan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Nomor 8 Tahun 2019. Tarif ini bisa berubah mengikuti kebijakan pemerintah, jadi selalu cek angka terkini di portal resmi KUR sebelum mengajukan.

Apa saja skema atau jenis KUR yang tersedia?

Ada lima skema KUR: KUR Super Mikro (sampai Rp10 juta), KUR Mikro (di atas Rp10 juta sampai Rp50 juta), KUR Kecil (di atas Rp50 juta sampai Rp500 juta), KUR Khusus untuk kelompok mitra usaha (sampai Rp500 juta), dan KUR Penempatan PMI untuk calon pekerja migran (sampai Rp25 juta).

Apakah KUR memerlukan agunan tambahan?

Untuk plafon sampai Rp100 juta pada KUR Super Mikro, KUR Mikro, dan KUR Kecil, bank tidak mensyaratkan agunan tambahan seperti sertifikat atau BPKB. Namun usaha yang dibiayai tetap menjadi agunan pokok, dan kelayakan usaha tetap dinilai ketat oleh bank.

Siapa saja yang berhak mengajukan KUR?

Warga negara Indonesia yang memiliki usaha produktif dan layak, tidak sedang memiliki kredit produktif aktif di bank lain (kecuali kredit konsumtif seperti KPR), dan memenuhi syarat dokumen legalitas usaha sesuai ketentuan bank penyalur.

Apa beda KUR dengan pinjaman komersial biasa?

KUR memakai bunga bersubsidi 6% efektif per tahun dan umumnya bebas agunan tambahan untuk plafon sampai Rp100 juta, khusus untuk usaha produktif. Pinjaman komersial biasa memakai bunga pasar yang lebih tinggi, sering mensyaratkan jaminan fisik, dan penggunaannya lebih fleksibel termasuk untuk kebutuhan konsumtif.

Bank mana saja yang menyalurkan KUR?

KUR disalurkan lewat puluhan bank dan lembaga keuangan resmi, termasuk BRI, Bank Mandiri, BNI, BCA, BTN, dan sejumlah bank pembangunan daerah. Daftar penyalur aktif dan terbaru bisa dicek di portal resmi KUR Kemenko Perekonomian.

Apakah pengajuan KUR pasti disetujui?

Tidak. KUR tetaplah kredit yang melalui proses seleksi dan penilaian kelayakan usaha oleh bank. Kelengkapan dokumen, kesehatan arus kas, rekam jejak kredit, dan kesesuaian plafon dengan skala usaha semuanya memengaruhi keputusan persetujuan.

Kesimpulan

Kredit Usaha Rakyat adalah salah satu program pembiayaan pemerintah paling signifikan untuk UMKM Indonesia, terbukti dari realisasi ratusan triliun rupiah dan NPL yang tetap rendah bertahun-tahun. Lima skema plafon, bunga bersubsidi 6% efektif per tahun, dan bebas agunan tambahan sampai Rp100 juta membuat KUR jauh lebih ramah dibanding kredit komersial biasa.

Tapi kemudahan ini bukan berarti pengajuan otomatis disetujui, bank tetap menilai kelayakan usaha Anda secara serius. Selalu verifikasi syarat, plafon, dan bunga terbaru langsung di portal resmi KUR Kemenko Perekonomian sebelum mengajukan. Kalau Anda masih bingung menentukan skema yang tepat atau mengelola modal pasca-pencairan agar benar-benar produktif, tim Mentor Bisnis Indonesia siap mendampingi Anda.